Tampilkan postingan dengan label books n' movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label books n' movies. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 April 2010

Sinopsis: The Kite Runner

Film The kite Runner merupakan Film yang diadaptasi dari sebuah novel yang memiliki judul yang sama yang dikarang oleh Khaled Hoseni. Film The Kite Runner disutradarai oleh sutradara kawakan dan terkenal yaitu Marc Poster. Pada tahun 2008, Film The Kite Runner mendapatkan penghargaan sebagai Film Asing Terbaik di ajang Piala Oscar. Film The Kite Runner mengisahkan tentang dua sahabat karib yang bernama Amir dan Hassan. Amir merupakan seorang anak keturunan Ras Pashtun (ras terhormat di Afghanistan pada saat itu), ayahnya bernama Agha Sahib, seorang duda yang kaya raya. Sedangkan Hassan hanyalah anak seorang pelayan. Ayah Hassan bernama Ali dan ia merupakan pelayan di rumahAgha Sahib. Hassan merupakan anak keturunan Ras Hazara.
Amir dan Hassan tinggal di Kabul Afghanistan, dan pada saat itu merupakan era pertempuran antara Taliban dengan Rusia. Amir dan Hassan selalu bermain bersama. Di tempat mereka tinggal, ada seorang anak yang bernama Assef yang memiliki kelainan seksual dan suka menganiaya anak laki-laki bersama geng brutalnya. Pada suatu hari, Assef ingin mencelakai Amir. Namun Hassan menyelamatkan Amir dengan gagah berani. Ia menembakkan ketapel ke mata Assef. Assef meraung kesakitan dan berjanji akan membalas perbuatan itu. Hassan setia mengikuti kemanapun Amir pergi, bahkan ia juga selalu berusaha melindungi Amir dari serangan Assef. Pada saat ulang tahun Hassan, Amir menghadiahi sebuah layang-layang kepada Hassan. Hassan sangat senang sekali menerima hadiah itu dan ia juga berjanji untuk mengajari Amir bermain layang-layang.
Amir tidak bisa bermain layang-layang dan Hassan adalah seorang pemain layangan yang hebat. Berkat pengajaran dari Hassan, Amir dapat memainkan layang-layang dengan sangat baik. Bahkan pada saat ada pertandingan lokal bermain layang-layang, Amir berhasil memenangkannya. Pada saat Hassan pergi mengambil layang-layang Amir yang terjatuh di suatu tempat, Assef mengikutinya dan berhasil mendapatkan Hassan yang tengah sendirian berada di tempat yang sepi. Pada saat itulah, Assef melakukan tindak kekerasan seksual kepada Hassan. Sebenarnya pada saat kejadian itu, Amir melihatnya. Namun ia memutuskan untuk melarikan diri dan tidak menolong sahabatnya, Hassan, yang telah rela melakukan apapun demi dia.
Semenjak kejadian itu, Amir menjauh dari Hassan dan berbuat apa saja untuk membuat Hassan bisa pergi jauh dari dirinya. Pada saat itulah Amir memfitnah Hassan telah mencuri jam tangannya. Akibat peristiwa itu, Ali, ayah Hassan memutuskan untuk tidak bekerja lagi untuk keluarga Agha Sahib. Beberapa Tahun kemudian, terjadi invansi besar-besaran oleh Rusia, yang membuat Agha Sahib dan Amir harus mengungsi ke Amerika. Di Amerika, Amir mmenyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang penulis novel. Amir kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Soraya, yang merupakan seorang puteri Jenderal yang bernama Taheri.
Kemudian, setelah meninggalnya Agha Sahib, ayah Amir, tiba-tiba Amir mendapatkan sebuah surat dari Rahim Khan, yang merupakan rekan kerja dan teman baik ayahnya. Rahim Khan menyuruh Amir untuk pergi ke Pakistan untuk menemui dirinya. Setelah tiba di Pakistan, Rahim Khan menceritakan segala hal kepada Amir. Rahim Khan memberitahu Amir bahwa Hassan sebenarnya adalah saudara tirinya. Saat itulah Amir ingin bertemu kembali dengan Hassan. Namun Hassan telah meninggal bersama istrinya, Farzana. Mereka dibunuh oleh Kelompok Taliban. Namun, anak Hasan masih hidup dan sekarang berada di Afghanistan, di bawah kekuasaan Assef yang sekarang menjadi eksekutor Taliban.
Amir berniat untuk kembali ke Afghanistan untuk menolong anak Hassan yang bernama Sohrab. Dengan segala cara dan mengeluarkan segenap keberaniaanya saat menghadapi Assef, Amir berhasil membebaskan Sohrab dan membawanya ke Amerika. Ia mengangkat Sohrab sebagai anaknya dan berusaha memenuhi setiap keinginannya, untuk membalas kebaikan temannya, yang tak lain adalah ayah Sohrab, di masa lalu.

 

Senin, 19 April 2010

Kritisi: The Crazy People


Film The Crazy People merupakan film yang dibuat pada tahun 90-an, yang disutradarai oleh Tony Bill. Film ini menceritakan tentang seorang pria bernama Emory Lesson yang bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Emory bekerja di bagian periklanan pada perusahaan tersebut. Permasalahan muncul ketika Emory dirasa tidak dapat membuat kata-kata iklan yang dapat menarik konsumen. Drucker yang merupakan general manager perusahaan tempat Emory bekerja, merasa bahwa iklan yang dibuat oleh Emory terlalu jujur. Drucker meminta Emory untuk mengubah iklannya dan membuatnya semenarik mungkin, meskipun tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Drucker merasa bahwa iklan yang jujur tidak dapat menarik masyarakat untuk membeli sebuah produk.
Namun Emory menolak permintaan tersebut, Emory menganggap bahwa hal tersebut merupakan penipuan dan mempermainkan kepercayaan masyarakat. Karena hal tersebut, Drucker menganggap bahwa Emory Lesson sudah tidak waras lagi karena mengguanakan kata-kata yang jujur dalam pembuatan iklan, padahal selama orang-orang membuat iklan dengan kata yang dibuat-buat untuk dapat menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Untuk mengatasi hal tersebut, Drucker menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawa Emory ke rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa itulah Emory menemukan teman-teman baru.Teman-teman barunya tersebut mengalami gangguan jiwa, misalnya salah satu temannya tersebut hanya mau mengatakan “halo”.
Karena suatu kesalahan, iklan-iklan yang dibuat Emory disebarluaskan. Dan ternyata iklan yang dibuat Emory dengan kata-kata yang jujur menarik perhatian masyarakat untuk membeli produk-produk yang diiklankan tersebut. Bahkan orang yang membeli jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Karena itulah Drucker menyuruh anak buahnya untuk menjemput Emory dari rumah sakit jiwa dan menyuruh Emory untuk kembali bekerja membuat iklan di perusahaan yang ia pimpin. Namun Emory menolak untuk kembali berkerja, karena ia telah merasa nyaman tinggal di rumah sakit jiwa itu bersama teman-temannya. Karena Drucker merasa tidak ada orang di perusahaanya yang mampu membuat iklan seperti Emory, ia memutuskan untuk meminta Emory untuk membuat iklan di rumah sakit jiwa bersama teman-teman barunya. Iklan-iklan yang dibuat oleh Emory dan teman-temannya mampu membuat penjualan produk-produk perusahaan tersebut membludak sehingga menyedot perhatian media massa. Sayangnya, Drucker mengatakan pada media bahwa dialah yang membuat iklan-iklan produknya. Drucker tidak ingin mengakui bahwa iklan-iklannya dibuat oleh orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Emory merasa kecewa sekaligus marah dengan pernyataan-peryataan Drucker yang tidak jujur kepada media. Setelah Drucker merasa sukses dengan keuntungan dari penjualan produk-produknya yang begitu besar, ia mengucilkan Emory dan teman-temannya yang telah berjasa dalam kesuksesan produk-produknya. Di akhir film, diceritakan mengenai kesuksesan Emory dan teman-temannya dalam membuat iklan untuk produk perusahaan SONY yang merupakan perusahaan yang menjadi saingan perusahan Drucker.
Film ini sangat menarik dan menghibur karena dikemas dengan bentuk cerita komedi dan terdapat aksi-aksi konyol dari para pemain-pemainnya. Selain itu film ini juga mendidik, karena banyak pesan moral yang disajikan, salah satunya mengajarkan tentang kejujuran. Tidak dipungkiri bahwa hampir semua iklan produk di dunia menggunakan iklan yang tidak jujur. Apa yang ditampilkan dalam iklan suatu produk jauh dari keadaan yang sebenarnya. Tentu saja hal tersebut dapat disebut sebagi salah satu bentuk penipuan besar-besaran terhadap masyarakat. Hal ini tentu sangat berbahaya jika apa yang disajikan dalam iklan sangat jauh dari keadaan yang sesungguhnya, terutama bagi produk makanan dan obat-obatan karena akan memberikan dampak yang serius bagi kesehatan masyarakat. Film The Crazy People secara tidak langsung mengingatkan para perusahaan agar menggunakan kejujuran dalam iklan-iklan produknya, jangan semata-mata menginginkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan kesejahteraan masyarakat, terutama konsumen yang telah membeli produk-produk mereka. Film ini meyakinkan perusahaan-perusahaan untuk tidak perlu merasa khawatir terhadap hasil penjualan dari produk-produk mereka jika menggunakan kejujuran dalam iklan produk-produk mereka. Film The Crazy People memaparkan bahwa dengan iklan yang jujur, produk dari suatu perusahaan tetap akan laku terjual, bahkan penjualan produk tersebut akan lebih meningkat, seperti yang dibuktikan di dalam film ini.
Selain menjelaskan tentang pentingnya suatu kejujuran dalam iklan, film The Crazy People juga mengajarkan kepada penonton tentang pentingnya mempertahankan kebenaran. Seseorang harus menerapkan kejujuran dan kebenaran dalam bidang apapun termasuk di dalam pekerjaanya. Hal ini dicontohkan oleh dr. Baylor, salah satu dokter Psikologis yang menangani kesepuluh pasien gangguan jiwa. dr. Baylor tidak mematuhi atasannya yang memerintahkannya untuk bekerjasama dengan suatu perusahaan iklan. Dr. Baylor menolak bekerja sama, karena perusahaan iklan tersebut ingin memanfaatkan para pasien gangguan jiwa di rumah sakit jiwa tempat ia bekerja untuk membuat iklan produk mereka demi keuntungan mereka sendiri dan tanpa memberi imbalan yang pantas terhadap hasil kinerja para pasien gangguan jiwa tersebut. Dr. Baylor tetap menolak tawaran kerjasama tersebut meskipun harus mengakibatkan dirinya dipecat oleh atasannya dari pekerjaannya. Dr. Baylor merasa sangat kecewa dengan tindakan atasannya yang lebih mementingkan uang daripada kesembuhan pasiennya. Meskipun dr. Baylor kehilangan pekerjaannya, ia tidak menyesal karena ia telah menegakkan kebenaran dan telah bekerja sebagaimana mestinya. Selain mengajarkan untuk mempertahankan kebenaran, cerita tersebut sekaligus mengajarkan kepada para penonton untuk tidak melakukan sesuatu yang salah hanya karena uang.
Selain itu, film The Crazy People juga mengajarkan kepada penonton untuk menghargai semua orang dan mengakui bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, begitu pula dengan para pasien di rumah sakit jiwa. Mereka semua juga memiliki kelebihan dan tidak ada salahnya mengakui kelebihan orang-orang tersebut. Dalam film The Crazy people, seorang manager perusahaan yang bernama Drucker tidak mau mengakui bahwa pembuat iklan produknyaadalah orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia merasa malu mengakui bahwa orang-orang yang memiliki gangguan jiwa tersebut lebih pintar dalam membuat iklan daripada bawahannya yang mengurusi periklanan.
Pesan-pesan moral yang diberikan oleh film tersebut dapat berguna bagi masyarakat, melihat sampai saat ini masih banyak perusahaan-perusahaan yang tidak jujur dalam pembuatan iklan untuk produk-produknya. Film The Crazy People juga dapat membuat masyarakat menjadi tidak takut lagi berkata jujur, karena dengan kejujuran bukan kesengsaraan yang akan didapat, tetapi akan memberikan sebuah kesuksesan.
 

Jumat, 04 Desember 2009

Review: Memoirs of a Geisha


Memoirs of a geisha atau memoar seorang geisha merupakan novel fiksi karangan Golden Arthur, seorang penulis yang berasal dari Amerika Serikat. Memoirs of a geisha ditulis oleh Arthur pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 1999. Memoirs of a geisha menceritakan perjalanan hidup seorang gadis kecil bernama Chiyo Sakamoto yang berasal dari keluarga nelayan miskin di daerah Yoroido, Jepang, selama Era Showa. Perjalanan hidup Chiyo Sakamoto penuh dengan lika-liku dan perjuangan. Kisah hidupnya yang menderita dimulai saat ia berusia sembilan tahun. Saat itu, ia dan kakaknya yang bernama Yuko Sakamoto dijual oleh ayahnya ke seorang pedagang karena ayahnya tak sanggup lagi membiayai hidup mereka. Pedagang tersebut kemudian membawa Chiyo dan kakaknya ke Gion untuk dijual ke sebuah rumah bodir yang disebut okiya. Sesampainya di Gion, Chiyo harus berpisah dengan kakaknya karena mereka dijual ke okiya yang berbeda.

Chiyo dijual ke sebuah okiya yang bernama Okiya Nitta. Di tempat itu, Chiyo harus bekerja untuk menebus uang yang telah digunakan okiya tersebut untuk membeli dirinya dan untuk biaya hidupnya saat ia berada di Okiya Nitta. Ia harus bekerja setiap hari sebagai budak di okiya tersebut. Chiyo Sakamoto terus berjuang untuk hidup meskipun berat. Selain itu, Chiyo juga harus menghadapi perlakuan semena-mena dari Hatsumomo, seorang geisha di Okiya Nitta yang juga merupakan salah satu geisha yang sangat terkenal di Gion. Hatsumomo tidak menyukai Chiyo dan berusaha untuk mengusirnya dari Okiya itu. Hatsumomo menggunakan cara yang licik untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Namun, Chiyo selalu berhasil luput dari kelicikan Hatsumomo, meskipun kadang harus terluka dan hampir mati.

Chiyo tak ingin terus hidup menderita dan menjadi sasaran kegilaan Hatsumomo. Chiyo tahu bahwa sesuatu yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik adalah dengan cara menjadi geisha. Seorang “wanita penghibur istimewa” yang memang diciptakan oleh sebuah okiya. Dengan menjadi geisha saat iia dewasa nanti, Chiyo bisa mendapatkan banyak uang dan popularitas. Namun, Chiyo juga tahu bahwa menjadi geisha bukanlah hal yang mudah. Ia harus bisa menguasai bermacam-macam tarian dan dapat menarikannya dengan anggun. Ia juga harus cerdas dan bisa memainkan samisen-alat musik petik khas Jepang- dengan baik.

Chiyo berusaha dengan keras untuk mewujudkan keinginannya. Ia tekun belajar dan berlatih, mengasah dengan rajin kemampuan seninya. Suatu hari, Chiyo bertemu dengan Mameha yang merupakan geisha paling terkenal dan memiliki harga paling mahal di Gion. Mameha merupakan saingan utama Hatsumomo. Mameha yang tertarik dengan diri Chiyo dan merasa kasihan pada Chiyo karena menjadi korban kelicikan Hatsumomo, berniat untuk mendidik Chiyo banyak hal, terutama mengajarinya untuk menjadi seorang geisha.

Mameha mengajari Chiyo hingga Chiyo dewasa. Berkat latihan dan pengajaran yang diberikan oleh Mameha dan kerja keras Chiyo, Chiyo mampu mewujudkan mimpinya menjadi seorang geisha, bahkan menjadi geisha yang terkenal.Chiyo dapat menjadi geisha terkenal karena dia memiliki kecerdasan dan kemampuan seni yang lebih daripada geisha-geisha lainnya. Setelah menjadi seorang geisha, nama Chiyo berubah menjadi Sayuri Nitta. Hatsumomo yang melihat Sayuri Nitta yang menjadi sangat terkenal dan bahkan telah mampu menyaingi dirinya, tidak bisa tinggal diam. Usaha Hatsumomo untuk menyingkirkan Sayuri semakin menjadi-jadi. Segala usaha dia tempuh meskipun dengan cara yang sangat licik. Segala fitnah atau tuduhan keji ditujukan pada Sayuri. Namun, Sayuri yang cerdas berhasil mengalahkan segala tipu daya Hatsumomo. Karena usahanya tidak pernah berhasil, akhirnya Hatsumomo menjadi gila akibat perbuatan liciknya yang dia lakukan untuk menyingkirkan Sayuri.

Terdapat beberapa pesan moral yang disampaikan novel ini. Salah satunya novel ini mengajarkan bahwa untuk mencapai apa yang kita inginkan dibutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Begitu juga dalam menjalani hidup, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dapat melaluinya. Seperti yang dilakukan si kecil Chiyo Sakamoto, dia harus berjuang dengan cara bekerja layaknya budak di sebuah okiya untuk dapat mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Ia juga belajar membaca dan berhitung dengan tekun , belajar seni seperti menari dan memainkan alat musik dengan sungguh-sungguh demi meraih impiannya untuk menjadi seorang geisha. Tentu semua itu tidak mudah, tapi dalam novel ini, Chiyo Sakamoto telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, dia mampu mewujudkannya.

Selain pesan moral tersebut, ada pesan lain yang dapat diambil dari novel ini, yaitu segala bentuk kecurangan tidak akan membawa kemenangan. Ketidak jujuran dan persaingan yang tidak sehat akan membawa kerugian bagi yang melakukannya sendiri. Seperti yang diceritakan di dalam novel ini mengenai Hatsumomo yang menggunakan segala cara yang tidak baik untuk dapat menghancurkan Chiyo Sakamoto/Nitta Sayuri demi mewujudkan ambisinya untuk menjadi geisha terhebat di Jepang. Namun Hatsumomo tidak pernah berhasil mewujudkannya dan justru membuatnya menjadi gila. Semua itu akibat dari perbuatannya sendiri.

Memoirs of a geisha berbeda dengan novel-novel lainnya. Novel Memoirs of a geisha yang menjadi best seller ini sarat dengan pesan moral. Oleh karena itulah, sangat sayang jika novel ini dilewatkan. Gaya bahasa yang khas dari Golden Arthur dan latar belakang Jepang yang begitu kental, turut mewarnai kelebihan novel ini. Bagi Anda yang menyukai kisah-kisah Jepang, belum lengkap rasanya jika belum membaca Memoirs of a geisha.